Copyright © Let's Talk Biography
Design by Dzignine
Thursday, 29 October 2015

BIOGRAPHY: NICCOLO MACHIAVELLI



Niccolo Machiavelli

Niccolo Machiavelli lahir di Florence pada tahun 1469 dan meninggal dunia pada tahun 1527 saat berumur 52 tahun. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bernardo di Niccolò Machiavelli dan Bartolomea di Stefano Nelli. Ayahnya adalah seorang ahli hukum yang terkemuka tetapi tidak begitu berada. Semasa hidupnya, pada saat renaissance Italia berada di masa puncak sehingga pada saat itu tidaklah heran apabila Italia lemah secara militer meskipun sangat brilian dari segi kultur. Florence yang dikuasai oleh keluarga Medici yang kemudian diusir, sehingga pada tahun 1498, Machiavelli memperoleh kedudukan tinggi di pemerintahan sipil dimana pada saat itu Florence menjadi Republik.
Tahun 1512, Republik Florence digulingkan dan penguasa Medici kembali memegang kekuasaan, dampaknya Machiavelli dipecat dari posisinya dan setelah itu dipenjarakan atas tuduhan terlibat dalam komplotan usaha melawan keluarga Medici. Semasa hidupnya, Machiavelli menghasilkan beberapa karya tulis yaitu : Discorso sopra le cose di Pisa (1499), Del modo di trattare i popoli della Valdichiana ribellati (1502), Del modo tenuto dal duca Valentino nell’ ammazzare Vitellozo Vitelli, Oliverotto da Fermo (1502), Discorso sopra la provisione del danaro (1502), Decennale primo (1506 poema in terza rima), Ritratti delle cose dell’Alemagna (1508-1512), Decennale secondo (1509), Ritratti delle cose di Francia (1510), Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (1512-1517), Il Principle (1513), Andria (1517), Mandragola (1518), Della lingua (1514), Clizia (1525), Belfagor arcidiavolo (1515), asino d’oro (1517), Dell’arte della guerra (1519-1520), Discorso sopra il riformare lo stato di Firenze (1520), Sommario delle cose della citta di Lucca (1520), Vita di castruccio Castracani da Lucca (1520), Istorie fiorentine (1520-1525), dan Frammenti storici (1525). Karyanya bukan hanya menyangkut tentang politik saja melainkan juga terdapat sejarah, karena karya-karyanya itulah Machiavelli ditempatkan sebagai pemikir brilian pada masanya. Karyanya yang paling terkenal adalah Il Principle ( Sang Pangeran), yang di dalamnya membahas bagaimana tindakan yang bisa atau perlu dilakukan oleh seseorang unutk mendapatkan ataupun mempertahankan kekuasaanya atau dapat disebut juga menghalalkan segala cara yang kemudian diasosiasikan dengan hal yang buruk.
Machiavelli terkenal karena nasehatnya yang blak-blakan bahwa seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaanya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik, dan dusta serta penggabungan dari kekejaman. Tak heran jika tokoh-tokoh seperti Benito Mussolini, Napoleon, Stalin, bahkan Hitler menggunakan pemikiran Machiavelli yang tertuang di Il Principe sebagai pedoman dalam memimpin.
Machiavelli menangkap dan memahami realitas politik bertolak dari rangkaian aksi bangsa-bangsa yang diwarnai dengan kepentingan masing-masing bangsa. Ia juga berpendapat bahwa negara harus berada di atas landasan hukum, tetapi juga militer merupakan wujud dari kekuatan dan kekuasaan fisik. Maka dapat diketahui bahwa hukum tidak sama dengan kekuasaan dan bahkan kekuasaan lebih unggul dari hukum. Menurut Machiavelli, negara harus mengejar kepentingannya sendiri demi kejayaan dirinya dalam hubungan dengan hal-hal lain di luar dirinya, sehingga kekuasaan pun harus steril dari pengaruh yang bersifat ekstra politikal yang dapat meruntuhkan dan menghancurkan negara. Negara dan kekuasaan harus benar-benar bebas dari nilai-nilai etis, kultural, dan religius.
Dalam bukunya Il Principe, Machiavelli menasihatkan agar seorang pemimpin dapat dukungan penduduk, karena kalau tidak maka tidak punya sumber menghadapi kesulitan. Untuk mencapai kesuksesan, Machiavelli menerangkan bahwaseorang pangeran harus dikellingi dengan menteri-menteri yang mampu dan setia serta menjauhkan diri dari penjilat. Il Principe sering dijuluki sebagai buu para dikktator, sebenarnya ia ingin menunjukan bahwa secara umum dia cenderung kepada bentuk pemerintahan republik ketimbang diktator, tetapi ia cemas dan khawatir atas lemahnya politik dan militer Italia, disamping itu dia juga merindukan sosok seorang pangeran yang kuat yang mampu mengatur negeri dan menghalau tentara asing yang merusak dan mengintai negerinya. Masalah sentralnya adalah bukan bagaimana rakyat harus bertingkah laku dan siapa yang mesti berkuasa, tetapi bagaimana sesungguhnya orang bisa memperoleh kekuasaan. Hal tersebut diperbincangkan sebagai cara yang lebih realistis daripada sebelumnya dalam berpolitik.
Penolakan Machiavelli terhadap penghakiman etis dalam politik mengakibatkan pemikirannya disebut sebagai pemikiran renaisance yang anti-Christ. Untuk memahami pemikiran Machiavelli, negara tidak boleh dipikirkan dalam kacamata etis tetapi dengan kacamata medis. Karena pada saat itu Italia terutama Florence sedang dalam bahaya besar, untuk itu negara harus dibuat kuat dengan cara-cara seperti di atas. Begitu pentingnya negara itu, sehingga pada hakikatnya, menurut Machiavelli, seluruh aktivitas politik dan kegiatan diplomatik haruslah bermuara ke negara. Penguasa ada untuk dan demi negara, sedangkan negara itu ada demi kepentingannya sendiri.
Pemikiran Machiavelli sering memberi inspirasi bagi para pelaku manipulasi dan penyalahguna kekuasaan, banyak revolusioner dan diktator mendapatkan kesadaran dari pemikiran Machiavelli mengenai cara menyikapi apa yang mereka anggap sebagai insting[1]. Machiavelli mmungkin tidak suka dengan tindakan-tindakan orang yang mengaku dibimbing oleh teorinya, namun dengan memisahkan antara etika dari politik, secara teoritis ia telah melempengkan jalan bagi negara absolut dan totalitarian yang sama sekali mengabaikan hak asasi manusia.

Berikut ini ringkasan pandangan Machiavelli yang ada dalam buku Sang Penguasa/The Prince atau Il Principe, yang antara lain persembahan Machiavelli kepada Lorenzo De’Medici. Semua negara dan wilayah kekuasaan tempat umat manusia bernaung berbentuk suatu negara republik atau suatu kerajaan. Kerajaan karena warisan turun-temurun atau suatu kerajaan baru, atau berupa negara bagian yang digabungkan pada kerajaan warisan seorang raja atas negara-negara bagiaan tersebut. Raja memperoleh wilayah-wilayah tersebut entah dengan senjata sendiri atau orang lain, atau karena warisan atau karena petualangan yang penuh keberanian. Pada kerajaan yang bersifat turun-temurun, kesulitan-kesulitan yang dihadapi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi kerajaan-kerajaan baru. Karena bagi kerajaan-kerajaan warisan sudah cukup kalau tidak melalaikan lembaga-lembaga yang didirikan oleh nenek moyangnya dan kemudian menyesuaikan kebijaksanaan dengan situasi yang ada. Selama raja yang sah tidak melakukan hal-hal yang tidak mengobarkan rasa benci pada rakyat karena tindakannya yang benar-benar jahat, sudah selayaknya rakyat dengan sendirinya tunduk kepadanya.
Dalam kerajaan baru justru muncul kesulitan-kesulitan. Pertama, karena rakyat dengan senang hati mengganti penguasanya dengan harapan mereka dapat hidup lebih baik, tetapi mereka terkecoh sendiri sebagaimana mereka alami kemudian, dan kehidupan mereka semakin parah. Ini wajar karena raja baru terpaksa menimpakan beban kepada mereka yang memaksa rakyat tunduk pada pasukan raja. Dengan demikian raja akan dimusuhi rakyat yang telah merelakan daerahnya, tidak ada persahabatan dengan rakyat yang telah membantu raja, sementara raja berhutang kepadanya. Tetapi kalau orang menguasai daerah-daerah yang berbeda bahasa, adat-istiadat, dan hukum, sangat besarlah kesulitan yang harus dihadapi. Salah satu cara terbaik untuk berhasil menguasainya adalah pertama penguasa baru harus tinggal di daerah tersebut. Dengan ada di tempat, kerusuhan akan mudah diketahui dan dapat dicegah dengan cepat, kedua mendirikan koloni-koloni di salah satu wilayah tersebut yang seolah-olah kunci wilayah itu. Kalau tidak raja akan menguras biaya yang tinggi untuk menempatan sejumlah pasukan. Ketiga penguasa wilayah asing tersebut haruslah menjadi pemimpin dan pembela negara-negara tetangganya yang lemah, dan berusaha memperlemah negara-negara yang kuat dan menjaga mereka agar tidak diserbu oleh negara asing yang tidak kalah kekuatannya.
Kalau mau merebut suatu negara, penguasa baru haruslah menentukan berat penderitaan yang ia anggap perlu dibebankan pada rakyat. Ia harus menimpakan penderitaan itu hanya untuk seklai, dan jangan mengulang-ulang penderitaan itu setiap hari. Dengan cara itu rakyat akan senang dan akan menarik simpati mereka kepadanya. Kekerasan harus dilakukan sekali saja, rakyat akan segera melupakannya dan tidak akan menentang lagi. Perlahan-lahan raja harus menunjukkan kebaikan kepada rakyatnya dan rakyat akan mengalami masa yang lebih baik.
Cara yang digunakan kerajaan-kerajaan ini dalam mengatur diri entah untuk menyerang atau untuk mempertahankan diri harus dibangun oleh landasan-landasan yang kuat, antara lain hukum dan pasukan yang baik; bisa angkatan perang sendiri, pasukan bayaran, atau pasukan bantuan, atau gabungan dari berbagai pasukan-pasukan tersebut. Kalu raja mengandalkan pertahanannya pada tentara bayaran, ketengangan dan keamanan tak pernah akan dicapainya, karena mereka sukar untuk dipersatukan, haus akan kekuasaan, tidak disiplin, dan tidak setia. Machiavelli ingin mengutarakan betapa menyedihkan kalau orang menggunakan pasukan bayaran, tetapi meskipun demikian haruslah pasukan itu dipimpin oleh seorang raja sebagai panglima perangnya. Kalau orang meminta negara tetangga untuk mebantu dan mempertahankan negara dengan pasukannya, pasukan itu disebut pasukan bantuan dan pasukan ini sama tidak bergunanya seperti tentara bayaran. Karena itu, barang siapa tidak menginginkan suatu kemenangan militer baiklah kalau meminta bantuan dari pasukan semacam ini, karena pasukan ini jauh lebih berbahaya daripada pasukan bayaran. Pasukan bantuan sungguh fatal. Mereka merupakan pasukan terpadu, taat sepenuhnya pada perintah. Sebaliknya pasukan bayaran membutuhkan waktu lebih banyak dan peluang merugikan Anda. Karena itu, raja yang bijaksana selau menghindari pasukan bantuan dan menggunakan pasukan tentaranya sendiri. Mereka lebih suka kalah perang dengan pasukannya sendiri daripada menang dengan bantuan orang lain, karena yakin tidak ada kemenagan sejati dapat dicapai dengan pasukan asing. Pasukan sendiri adalah pasukan yang terdiri dari rakyat atau warga negara atau orang-orang yang dikuasainya.
Bagaimana Raja Harus Setia Memegang Janji Para raja yang telah berhasil melakukan hal-hal yang besar adalah mereka yang menganggap mudah atas janji-janji mereka. Mereka yang tahu bagaimana memperdayakan orang dengan kelihaiannya dan akhirnya menang terhadap mereka yang memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran. Ada dua cara berjuang yaitu melalui hukum (merupakan cara yang wajar bagi manusia) atau melalui kekerasan (cara bagi binatang). Seorang raja harus tahu bagaimana menggunakan dengan baik cara-cara manusia dan binatang. Hal ini dimaksudkan raja tidak boleh menyimpang dari yang baik, jika itu mungkin, ia harus mengetahui bagaimana bertindak jahat, jika perlu. Bagaimana Menghindari Aib dan Kebencian Raja harus menghindari hal-hal yang akan membuatnya dibenci atau direndahkan, dan kalau ia berhasil, ia sudah melakukan kewajibannya dengan baik, dan tidak akan mengalami bahaya, meskipun ia melakukan kejahatan-kejahatan lainnya. Ada hal yang harus ditahuti oleh raja, subversi dari dalam di antara para bawahannya dan serangan dari luar oleh kekuatan asing. Mengenai yang pertama, perlu diingat bahwa orang yang dibenci karena perbuatan baik atau perbuatan jahat, sehingga seorang raja yang ingin mempertahankan pemerintahannya kerap kali terpaksa untuk tidak bertindak baik, karena perbuatan baik merupakan musuh Anda. Untuk masalah yang kedua ini, pertahanannya terletak pada persenjataan lengkap dan sekutu yang baik.
Bagaimana Seorang Raja Harus Bertindak untuk Tetap Disegani Rakyat Tak ada hal yang lebih baik mendatangkan pujian bagi seorang raja daripada menunjukkan kemampuan pribadi dan keahliannya dalam berperang dan memimpin pasukan. Seorang raja jangan pernah masuk persekutuan yang agresif dengan seseorang yang lebih kuat daripada dirinya sendiri, kecuali kalau terpaksa, karena jika Anda menang, Anda akan menjadi tawanan sekutu Anda. Seorang raja harus menunjukkan penghargaannya terhadap bakat, secara aktif mendorong orang-orang berbakat, dan memberi penghargaan kepada seniman terkemuka. Dengan demikian ia harus mendorong rakyat melakukan tugasnya dengan tenang. Suatu masalah yang penting di sini adalah jika raja tidak cukup bijaksana atau kalau raja tidak memilih para menterinya dengan baik. Yang dimaksudkan di sini adalah para penjilat, yang memenuhi istana, orang yang suka mengursi diri sendiri dan senag menutupi dirinya sendiri. Karena itu, seorang raja yang pintar akan menggunakan jalan tengah, memilih orang-orang bijaksana untuk mengurusi pemerintahan dengan baik.
Bila dikaji lebih mendalam isi dari karya The Prince, tidaklah dapat dikatakan bahwa seluruh isi nasihatnya menggambarkan Machiavelli sebagai pengatur siasat yang jahat, penjilat, penuh kekejaman, amoral dan penuh tipuan dalam mengejar kekuasaan. Atau dari hasil bahasan banyak orang yang mencap tentang Machiavelli berisi the end justifies the means atau tujuan menghalalkan cara, yang dipandang orang, bahwa hal itu tidak boleh melanggar moralitas dan agama. Menurut Machiavelli, tidak jadi soal sepanjang untuk mencapai tujuan (kekuasaan). Bagi Machiavelli, keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuan, itulah orang yang sukses sehingga perlu cara-cara, bagaimanapun caranya, meskipun bertentangan dengan moralitas. Berdasarkan kajian tersebut, jelas bahwa tidak sekonyong-konyong orang melakukan sesuatu tanpa sebab, tetapi harus berdasarkan apa yang menjadi dasar orang itu berbuat. Sebagai contoh Machiavelli mengatakan boleh membunuh semua lawan, sepanjang dikhawatirkan mereka akan melawan atau menghancurkan kekuasaan politiknya. Apapun boleh dilakukan untuk memperkuat dan memperluas kekuasaannya. Sekarang saja (dalam dunia hukum) orang diperkenankan untuk membunuh jika keselamatan jiwanya terancam. Lihat kasus aparat penegak hukum (police). Untuk itu, jika Machiavelli dianggap kejam, jahat, tidak berprikemanusiaan, berarti tidak sepadan dengan kehidupan atau realita sekarang. Hanya Machiavelli itu tidak terlalu “ kuat” untuk menyatakan bahwa dalam melanggengkan kekuasaan perlu dengan membunuh. Inilah pokok persoalannya.

0 comments:

Post a Comment