IMMANUEL KANT
Immannuel Kant lahir di Konigsberg di Prusia
Timur pada tanggal 22 April 1724. Memulai studinya di Fredericianum Collegium,
salah satu pusat pietisme Jerman termasyur, Kant kemudian mendaftar di sekolah
filsafat di Universitas Konigsberg, di mana dia belajar filsafat rasionalistik
Wolff serta matematika dan fisika Newton. Setelah menamatkan studi di
universitas tersebut Kant menghabiskan sembilan tahun sebagai guru bagi
beberapa keluarga terpandang sebelum kembali mengajar di almamaternya ini. Kembalinya
Immnuel Kant ke Konigsberg pada tahun 1755 ditandai dengan terbitnya salah satu
bukunya berjudul General Natural History and Theory of Heavens, di mana ia
membahas hipotesis bahwa sistem tata surya sebenarnya bersumber pada materi
asali nebulus. Setahun kemudian Kant mulai mengajar di Universitas Konigsberg
sampai tahun 1797. Tahun 1756 menandai pembaruan minat dalam penyelidikan
filosofis. Dirangsang oleh empirisme Hume dan naturalisme Rousseau, Kant mulai
merencanakan revisi kritis terhadap rasionalisme dogmatis Leibniz dan Wolff,
pemikiran yang sangat diakrabinya selama masa “tidur dogmatis”.
Seluruh
keraguan yang menumpuk dalam pikiran Kant menemukan ekspresinya dalam karya
berjudul The Dreams of a Visionary Illustrated with the Dreams of Metaphysics. Buku
ini ditulis Kant pada tahun 1766. Pandangan visioner yang didiskusikan Kant
dalam buku ini terutama berpusat pada karya Swedenborg, seorang metafisikawan
Swedia yang waktu itu ajarannya menjadi topik yang hangat didiskusikan.
Diangkat menduduki kursi Logika dan Metafisika di Universitas Konigsberg pada
tahun 1779, resmilah Kant menyelesaikan studinya dengan disertasi De Mundi
sensibilis atque intelligibilis formis et principiis, di mana untuk pertama
kalinya dia menunjukkan kecenderungan mengadopsi sistem independen filsafat.
Tidak
sampai sepuluh tahun ketika periode “pra-kritis” Kant berakhir. Pada tahun 1781
Kant muncul sebagai pelopor kritik transendental dengan penerbitan karya
Critique yang pertama. Demikianlah, dimulai “periode kritis” yang bertahan
sampai tahun 1794. Setelah beberapa publikasi tentang agama yang bertentangan
dengan prinsip-prinsip Kekristenan tradisional, Kant mentaati perintah Raja
Frederick William II untuk tidak membicarakan masalah agama dalam ajaran dan
tulisan-tulisannya. Pensiun dari mengajar karena usia dan sakit, Kant
menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan mengedit ulang
karya-karyanya. Dia meninggal di kota kelahirannya pada tanggal 28 Februari
1804.
Karya
utama Kant selama periode kritis meliputi Critique of Pure Reason, di mana dia
menguji akal manusia dan menyimpulkan bahwa manusia mampu membangun ilmu
pengetahuan, dan bukan metafisika. Pada tahun 1783 ia menerbitkan Prolegomena
atau Prologues to any Future Metaphysics, di mana dia menguji hal yang sama dari
sudut pandang yang berbeda. Pada 1785 terbitlah karyanya berjudul Foundation
for the Metaphysics of Ethics, di mana ia mendiskusikan masalah moral
berdasarkan prinsip-prinsip kritik transendental. Dalam bukunya Critique of
Judgment, ia menguji finalitas dalam alam dan masalah estetika. Ketiga Critique
inilah yang menjadi maha karya serta eksposisi definitif pemikiran seorang
Immanuel Kant.
Kritik
atas Rasio Murni
Rasionalisme
dan empirisisme mengambil alih penyelesaian problem: “Nilai apa yang dikandung oleh
pengetahuan (ide atau impresi) yang aku dapatkan tentang dunia fisikal
(material) dan hubungannya dengan apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan ini
mengandung sekaligus masalah epistemologis dan etis. Untuk mengatasi kesulitan,
rasionalisme—dari Descartes sampai Leibniz—telah mulai dengan asumsi bahwa
pikiran manusia dianugerahi dengan ide-ide bawaan. Memulainya dengan melakukan
deduksi dari ide-ide bawaan ini, rasionalisme membangun pengetahuan yang
dilengkapi dengan universalitas (karena ide-ide bawaan bersifat umum bagi semua
pikiran) dan sesuatu yang dibutuhkan (kualitas yang harus dimiliki semua
pengetahuan ilmiah dan filsafat). Tetapi rasionalisme gagal menunjukkan
keabsahan atau validitas jenis pengetahuan ini dalam rujukannya kepada dunia
alam tanpa jatuh ke panteisme. Selanjutnya, dalam setiap pertimbangan mengenai
Allah yang transenden, orde atau susunan ide-ide tetap terpisah dan berbeda
dari orde atau susunan benda-benda.
Di
lain pihak, empirisme berusaha menjawab pertanyaan yang sama dan memulainya
dengan impresi inderawi. Dengan cara ini empirisme mengklaim telah “menemukan”
salinan atau kopi objek yang ditangkap melalui impresi indrawi tersebut.
Meskipun demikian, cara ini tidak mampu menunjukkan aspek universalitas dari
dan keniscayaan pengetahuan tersebut. Empirisme lupa bahwa setiap persepsi,
meskipun bersifat tak-terbatas (ad infinitum), tetap saja partikular.
Kritisisme semacam ini tentu telah terlebih dahulu digagas dan dikemukakan
David Hume dan tak-terbantahkan. Untuk menghindari kesulitan sebagaimana
dihadapi empirisme ini, Hume mengemukakan unsure psikologis yang lain yang
disebut sebagai kebiasaan mengasosiasi (the habit of association) yang
menghubungkan impresi yang satu dengan impresi lainnya dan kemudian memberikan
mereka unsur universalitas dan keniscayaan. Apakah jalan keluar ini memuaskan?
Harus diingat di sini, jika intelek bisa menghubungkan fenomena yang satu
dengan fenomena lainnya dan kemudian menegaskan dimensi universalitas dan
keniscayaan mereka, intelek semacam itu tentu bukanlah “tabula rasa”. Intelek
dengan kemampuan semacam ini pasti memiliki konsep-konsep tertentu dalam
dirinya (innate concept) mengenai universalitas dan keniscayaan, yang kemudian
mengatributkannya kepada fenomena partikular ketika fenomena-fenomena itu
dihubungkan satu sama lain dalam kelompok atau kelas tertentu.
Lihatlah
bahwa gagasan yang sangat tidak memuaskan yang ditawarkan empirisme maupun
jalan keluar yang disodorkan Hume sungguh-sungguh “memaksa” Kant untuk memikirkan cara terbaik memahami
realitas. Kant tertantang untuk menemukan unsur objektif dan nilai etis dari
pengetahuan kita [dua pertanyaan penting yang dijawab Kant adalah (1) what can
I know? yang berhubungan dengan teori pengetahuan dan (2) what should I do?
yang berhubungan dengan masalah etika]. Dalam usahanya menawarkan sebuah solusi
yang konklusif, Kant menulis karya Critiques (disebut demikian karena
dimaksudkan untuk mengkritik dalam pengertian mendiskusikan dan menimbang).
Demikianlah, seluruh karya Immanuel Kant dapat sebut sebagai usaha serius
menguji secara saksama rasionalisme dan empirisme, tentu bukan untuk
memberangus sama sekali keduanya, tetapi untuk menemukan kelemahan-kelemahan
mereka seraya tetap mempertahankan hal-hal esensial dari keduanya.
Menurut
Kant, rasionalisme termasuk jenis “putusan analitis. Disebut demikian karena jenis putusan ini mengkonstruksi
sebuah sistem pengetahuan yang dilengkapi dengan aspek atau dimensi
universalitas dan keniscayaan, tetapi bagi Kant, jenis pengetahuan semacam ini
bersifat tautologis. Jenis pengetahuan ini tidak mampu membantu kita memahami
realitas. Pengetahuan jenis ini tentu tidak andal, karena itu pengetahuan harus
maju selangkah lagi, dan menurut Kant, pengetahuan harus bersifat “sintetis”.
Yang dimaksud adalah jenis pengetahuan yang predikatnya memperluas pengetahuan
kita mengenai subjek. Empirisme tentu bukanlah jenis putusan “sintetis”, tetapi
lebih merupakan putusan a posteriori, di mana predikatnya tidak lebih dari
fakta pengalaman, dan tentu saja mengakibatkan putusan ini kehilangan unsur
universalitas dan keniscayaannya. Jenis putusan apapun yang tidak memiliki
unsur universalitas dan keniscayaan tentu bukanlah jenis pengetahuan filosofis
yang cukup meyakinkan.
Kant
mengajarkan bahwa ada jenis putusan lain yang disebut putusan sintetis apriori.
Bagi Kant, jenis putusan ini akan mengarah kepada pengetahuan ilmiah yang
benar. Jenis putusan ini disebut sintetis karena memiliki karakter
universalitas dan memenuhi criteria keniscayaan (necessity) tanpa menjadi
tautologis. Selain itu, jenis putusan ini pun memiliki fekunditas putusan
aposteriori tanpa dibatasi pada pengada tertentu yang ada di dunia empiris.
Syarat pembentukan setiap putusan sintetis apriori adalah perlunya putusan
memiliki forma (form) dan materi (matter). (1) Forma diberikan oleh intelek,
independen dari semua pengalaman, a priori, dan menandakan fungsi, cara dan
hukum mengetahui dan bertindak yang eksistensinya mendahului seluruh
pengalaman. (2) Materi tidak lain adalah sensasi subjektif yang kita terima
dari dunia luar.
Melalui
kedua unsur inilah manfaat dari rasionalisme dan empirisme dipersatukan dalam
putusan yang sama: forma mewakili unsur universal dan niscaya, sedangkan materi
mewakili data empiris. Putusan yang dihasilkan (sintetis apriori) adalah
universal dan niscaya karena forma, dan absah bagi dunia empiris karena materi.
Perlu dicatat bahwa kedua elemen ini harus ada dalam setiap pembentukan putusan
sintetis apriori: forma tanpa materi adalah hampa; materi tanpa bentuk adalah
buta. Jelas, pengetahuan diperoleh melalui putusan apriorinya Kant adalah jenis
pengetahuan yang memiliki hanya nilai fenomenal. Jenis pengetahuan ini tidak
memberikan pemahaman yang valid mengenai obyek “in se” atau sebagaimana merekaa
eksis di alam (noumena), tetapi hanya sejauh mereka dipikirkan oleh
subjek. Ego berpikir Kant tidak
mengasimilasi obyek, sebagaimana dipertahankan filsafat tradisional, tetapi
konstruksinya. Kenyataannya, baik materi dan bentuk (sensasi) adalah elemen
subjektif dan tidak memperlihatkan kenyataan; bahkan tetap terpisah dan berbeda
dari subjek.
Kant
menyajikan studinya mengenai putusan sintetis apriori dalam Critique of Pure
Reason. Karya ini dibagi menjadi tiga bagian:
• Dalam
Transcendental Aesthetic (Estetika Transendental), Kant menyelidiki
unsur-unsur pengetahuan yang masuk akal mengacu pada suatu bentuk apriori ruang
dan waktu. Objek penelitian ini adalah untuk membuktikan matematika sebagai
ilmu yang sempurna. Awal pengetahuan adalah sensibilitas. Artinya pengetahuan
berawal dari proses sensasi atau pengindraan. Supaya pengetahuan bisa
dihasilkan, sensasi harus dilokasikan dalam ruang (in space), jika pengetahuan
tersebut dihasilkan melalui indera eksternal. Sementara itu, sensasi
dilokasikan dalam waktu (in time) jika pengetahuan dihasilkan satu melampaui
lainnya, tidak peduli dari mana asal pengetahuan tersebut, bahkan ketika
pengetahuan tersebut hanyalah keadaan kesadaran yang sederhana, misalnya
kenikmatan dan rasa sakit. Bagi Kant, ruang dan waktu bukanlah realitas yang
eksis dalam dirinya sendiri, sebagaimana dipercaya Newton. Ruang dan waktu juga
bukan realitas yang dihasilkan oleh pengalaman, sebagaimana dipertahankan
Aristoteles. Ruang dan waktu lebih merupakan bentuk-bentuk a priori,
Pengetahuan pada tingkat pengindraan (intuisi murni) membawa dalam dirinya
semacam kegentingan (exigencies), bahwa setiap pengindraan (sensation) harus
dilokasikan dalam ruang, entah itu di atas, di bawah, di sebelah kiri atau
kanan, dan dalam waktu, yakni sebelumnya, sesudahnya, atau yang bersamaan dengan
pengindraan lainnya. Demikianlah, ruang dan waktu adalah kondisi-kondisi,
bukanlah eksistensi dari sesuatu tetapi posibilitas dari keberadaannya yang
termanifestasi di dalam diri kita. Singkatnya, ruang dan waktu adalah
bentuk-bentuk subjektif. Aritmatika dan geometri kemudian didasarkan pada ruang
dan waktu. Akibatnya, mereka didasarkan pada bentuk-bentuk subyektif, serta
aspek keseluruhan (universalitas) dan kondisi yang harus ada (necessity) yang
kita temukan di dalam mereka muncul atau dihasilkan dari bentuk-bentuk
subyektif ini. Dengan kata lain, aritmatika dan geometri adalah ilmu mutlak,
bukan karena mereka mewakili sebuah aspek universal dan keniscayaan dari dunia
fisik tetapi karena mereka adalah konstruksi apriori jiwa manusia dan menerima
darinya universalitas dan keniscayaan.
• Karya
Transcendental Analytic (Analitika
Transendental) adalah sebuah penyelidikan ke dalam pengetahuan intelektual.
Obyeknya adalah dunia fisik, dan ruang lingkupnya adalah membuktikan “fisika
murni” (mekanik) sebagai ilmu yang sempurna. Intuisi murni tentang ruang dan
waktu menyajikan kepada kita spektrum pengetahuan (dalam epistemologi Kant
digunakan istilah manifold, dimaksud sebagai “the totality of discrete items of
experience as presented to the mind; the constituents of a sensory
experience”), tetapi sebenarnya merupakan pengetahuan yang tidak tertata. Jiwa
manusia, yang cenderung ke arah penyatuan pengetahuan, tidak bisa berhenti pada
intuisi yang membingungkan ini. Roh atau jiwa manusia selalu ingin bergerak maju
ke pengetahuan pada tingkat yang lebih tinggi yang berpusat di kecerdasan
(intellect) dan yang kegiatannya adalah mengatur data yang diinderai yang
tersebar dalam ruang dan waktu.
• Objek
penelitian dari Transcendental Dialectic (Dialektika Transendental)
adalah realitas yang melampaui pengalaman kita; yaitu esensi Allah, manusia dan
dunia. Kant mereduksikan objek-objek dari metafisika tradisional ini kepada
“ide-ide,” yang tentangnya berputar-putar secara sia-sia, tanpa harapan untuk
bisa tiba pada sebuah hasil yang pasti. Klasifikasi yang dilakukan intelek atas
data-data yang ditangkap intuisi ke dalam kategori-kategori tidak pernah
mencapai suatu penyatuan sempurna. Dalam dunia fenomenal selalu ada serangkaian
fenomenal yang memperpanjang sendiri tanpa batas dalam ruang dan waktu. Dalam
diri kita, bagaimanapun, ada kecenderungan untuk mencapai penyatuan fenomena
secara tetap, dan sebagai akibatnya timbul dalam diri kita “ide-ide” tertentu
yang berfungsi sebagai titik acuan dan pengatur bagi fenomena secara
keseluruhan. “Ide-ide” dimaksud ada tiga, yakni, (1) ego personal, prinsip
pemersatu atas semua fenomena internal; (2) dunia eksternal, prinsip pemersatu
dari semua fenomena yang datang dari luar, dan (3) Allah, prinsip pemersatu
dari semua fenomena, terlepas dari asal-usul mereka.
Bagi Kant, satu-satunya
pengetahuan yang benar dan tepat adalah pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan
yang diperoleh melalui kategori-kategori intelek, yang tugasnya adalah mengatur
data-data pengindraan yang masuk sesuai suksesi mekanik mereka. Ideal realitas
(noumenon), Allah, keabadian jiwa, dan dunia eksternal bukanlah objek dari
intuisi yang masuk akal (sensible intuiton), dan karenanya bukan obyek dari
pengetahuan yang adalah lazim bagi intelek.
Tanpa ragu, bagi Kant,
keberadaan dari yang melampaui pengindraan, Allah dan keabadian jiwa
sungguh-sungguh pasti; itu adalah determinasi konseptual (conceptual
determination) mereka yang adalah mustahil. Untuk alasan ini, Kant dipaksa
menunjukkan keberadaan mereka sebagai yang dipostulatkan oleh rasio praktis dan
sebagai kemendesakan dari fakultas yang beroperasi di ranah finalitas dan
estetika. Tetapi begitu pemahaman yang benar dan tepat dari keberadaan Allah
dan jiwa ditolak, siapa yang dapat meyakinkan kita bahwa postulat-postulat
dan kemendesakan-kemendesakan yang
dibicarakan Kant dengan begitu fasih bukanlah semata-mata ilusi si subjek?
Bukankah akan tampak lebih logis untuk menyajikan subjek, jiwa manusia, sebagai
pencipta dan pengatur mutlak, dan kemudian menurunkan seluruh realitas dari
manusia melalui deduksi logis? Inilah kecenderungan yang perlahan-lahan
menyertai seluruh Kritisisme Kantian, dan untuk alasan ini tanpa keraguan
apapun Kant adalah Bapak Idealisme modern.


0 comments:
Post a Comment