Copyright © Let's Talk Biography
Design by Dzignine
Thursday, 29 October 2015

BIOGRAPHY: IMMANUEL KANT



IMMANUEL KANT

 Immannuel Kant lahir di Konigsberg di Prusia Timur pada tanggal 22 April 1724. Memulai studinya di Fredericianum Collegium, salah satu pusat pietisme Jerman termasyur, Kant kemudian mendaftar di sekolah filsafat di Universitas Konigsberg, di mana dia belajar filsafat rasionalistik Wolff serta matematika dan fisika Newton. Setelah menamatkan studi di universitas tersebut Kant menghabiskan sembilan tahun sebagai guru bagi beberapa keluarga terpandang sebelum kembali mengajar di almamaternya ini. Kembalinya Immnuel Kant ke Konigsberg pada tahun 1755 ditandai dengan terbitnya salah satu bukunya berjudul General Natural History and Theory of Heavens, di mana ia membahas hipotesis bahwa sistem tata surya sebenarnya bersumber pada materi asali nebulus. Setahun kemudian Kant mulai mengajar di Universitas Konigsberg sampai tahun 1797. Tahun 1756 menandai pembaruan minat dalam penyelidikan filosofis. Dirangsang oleh empirisme Hume dan naturalisme Rousseau, Kant mulai merencanakan revisi kritis terhadap rasionalisme dogmatis Leibniz dan Wolff, pemikiran yang sangat diakrabinya selama masa “tidur dogmatis”.

Seluruh keraguan yang menumpuk dalam pikiran Kant menemukan ekspresinya dalam karya berjudul The Dreams of a Visionary Illustrated with the Dreams of Metaphysics. Buku ini ditulis Kant pada tahun 1766. Pandangan visioner yang didiskusikan Kant dalam buku ini terutama berpusat pada karya Swedenborg, seorang metafisikawan Swedia yang waktu itu ajarannya menjadi topik yang hangat didiskusikan. Diangkat menduduki kursi Logika dan Metafisika di Universitas Konigsberg pada tahun 1779, resmilah Kant menyelesaikan studinya dengan disertasi De Mundi sensibilis atque intelligibilis formis et principiis, di mana untuk pertama kalinya dia menunjukkan kecenderungan mengadopsi sistem independen filsafat.

Tidak sampai sepuluh tahun ketika periode “pra-kritis” Kant berakhir. Pada tahun 1781 Kant muncul sebagai pelopor kritik transendental dengan penerbitan karya Critique yang pertama. Demikianlah, dimulai “periode kritis” yang bertahan sampai tahun 1794. Setelah beberapa publikasi tentang agama yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Kekristenan tradisional, Kant mentaati perintah Raja Frederick William II untuk tidak membicarakan masalah agama dalam ajaran dan tulisan-tulisannya. Pensiun dari mengajar karena usia dan sakit, Kant menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan mengedit ulang karya-karyanya. Dia meninggal di kota kelahirannya pada tanggal 28 Februari 1804.

Karya utama Kant selama periode kritis meliputi Critique of Pure Reason, di mana dia menguji akal manusia dan menyimpulkan bahwa manusia mampu membangun ilmu pengetahuan, dan bukan metafisika. Pada tahun 1783 ia menerbitkan Prolegomena atau Prologues to any Future Metaphysics, di mana dia menguji hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Pada 1785 terbitlah karyanya berjudul Foundation for the Metaphysics of Ethics, di mana ia mendiskusikan masalah moral berdasarkan prinsip-prinsip kritik transendental. Dalam bukunya Critique of Judgment, ia menguji finalitas dalam alam dan masalah estetika. Ketiga Critique inilah yang menjadi maha karya serta eksposisi definitif pemikiran seorang Immanuel Kant.


Kritik atas Rasio Murni

Rasionalisme dan empirisisme mengambil alih penyelesaian problem: “Nilai apa yang dikandung oleh pengetahuan (ide atau impresi) yang aku dapatkan tentang dunia fisikal (material) dan hubungannya dengan apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan ini mengandung sekaligus masalah epistemologis dan etis. Untuk mengatasi kesulitan, rasionalisme—dari Descartes sampai Leibniz—telah mulai dengan asumsi bahwa pikiran manusia dianugerahi dengan ide-ide bawaan. Memulainya dengan melakukan deduksi dari ide-ide bawaan ini, rasionalisme membangun pengetahuan yang dilengkapi dengan universalitas (karena ide-ide bawaan bersifat umum bagi semua pikiran) dan sesuatu yang dibutuhkan (kualitas yang harus dimiliki semua pengetahuan ilmiah dan filsafat). Tetapi rasionalisme gagal menunjukkan keabsahan atau validitas jenis pengetahuan ini dalam rujukannya kepada dunia alam tanpa jatuh ke panteisme. Selanjutnya, dalam setiap pertimbangan mengenai Allah yang transenden, orde atau susunan ide-ide tetap terpisah dan berbeda dari orde atau susunan benda-benda.

Di lain pihak, empirisme berusaha menjawab pertanyaan yang sama dan memulainya dengan impresi inderawi. Dengan cara ini empirisme mengklaim telah “menemukan” salinan atau kopi objek yang ditangkap melalui impresi indrawi tersebut. Meskipun demikian, cara ini tidak mampu menunjukkan aspek universalitas dari dan keniscayaan pengetahuan tersebut. Empirisme lupa bahwa setiap persepsi, meskipun bersifat tak-terbatas (ad infinitum), tetap saja partikular. Kritisisme semacam ini tentu telah terlebih dahulu digagas dan dikemukakan David Hume dan tak-terbantahkan. Untuk menghindari kesulitan sebagaimana dihadapi empirisme ini, Hume mengemukakan unsure psikologis yang lain yang disebut sebagai kebiasaan mengasosiasi (the habit of association) yang menghubungkan impresi yang satu dengan impresi lainnya dan kemudian memberikan mereka unsur universalitas dan keniscayaan. Apakah jalan keluar ini memuaskan? Harus diingat di sini, jika intelek bisa menghubungkan fenomena yang satu dengan fenomena lainnya dan kemudian menegaskan dimensi universalitas dan keniscayaan mereka, intelek semacam itu tentu bukanlah “tabula rasa”. Intelek dengan kemampuan semacam ini pasti memiliki konsep-konsep tertentu dalam dirinya (innate concept) mengenai universalitas dan keniscayaan, yang kemudian mengatributkannya kepada fenomena partikular ketika fenomena-fenomena itu dihubungkan satu sama lain dalam kelompok atau kelas tertentu.

Lihatlah bahwa gagasan yang sangat tidak memuaskan yang ditawarkan empirisme maupun jalan keluar yang disodorkan Hume sungguh-sungguh “memaksa” Kant  untuk memikirkan cara terbaik memahami realitas. Kant tertantang untuk menemukan unsur objektif dan nilai etis dari pengetahuan kita [dua pertanyaan penting yang dijawab Kant adalah (1) what can I know? yang berhubungan dengan teori pengetahuan dan (2) what should I do? yang berhubungan dengan masalah etika]. Dalam usahanya menawarkan sebuah solusi yang konklusif, Kant menulis karya Critiques (disebut demikian karena dimaksudkan untuk mengkritik dalam pengertian mendiskusikan dan menimbang). Demikianlah, seluruh karya Immanuel Kant dapat sebut sebagai usaha serius menguji secara saksama rasionalisme dan empirisme, tentu bukan untuk memberangus sama sekali keduanya, tetapi untuk menemukan kelemahan-kelemahan mereka seraya tetap mempertahankan hal-hal esensial dari keduanya.

Menurut Kant, rasionalisme termasuk jenis “putusan analitis. Disebut demikian  karena jenis putusan ini mengkonstruksi sebuah sistem pengetahuan yang dilengkapi dengan aspek atau dimensi universalitas dan keniscayaan, tetapi bagi Kant, jenis pengetahuan semacam ini bersifat tautologis. Jenis pengetahuan ini tidak mampu membantu kita memahami realitas. Pengetahuan jenis ini tentu tidak andal, karena itu pengetahuan harus maju selangkah lagi, dan menurut Kant, pengetahuan harus bersifat “sintetis”. Yang dimaksud adalah jenis pengetahuan yang predikatnya memperluas pengetahuan kita mengenai subjek. Empirisme tentu bukanlah jenis putusan “sintetis”, tetapi lebih merupakan putusan a posteriori, di mana predikatnya tidak lebih dari fakta pengalaman, dan tentu saja mengakibatkan putusan ini kehilangan unsur universalitas dan keniscayaannya. Jenis putusan apapun yang tidak memiliki unsur universalitas dan keniscayaan tentu bukanlah jenis pengetahuan filosofis yang cukup meyakinkan.

Kant mengajarkan bahwa ada jenis putusan lain yang disebut putusan sintetis apriori. Bagi Kant, jenis putusan ini akan mengarah kepada pengetahuan ilmiah yang benar. Jenis putusan ini disebut sintetis karena memiliki karakter universalitas dan memenuhi criteria keniscayaan (necessity) tanpa menjadi tautologis. Selain itu, jenis putusan ini pun memiliki fekunditas putusan aposteriori tanpa dibatasi pada pengada tertentu yang ada di dunia empiris. Syarat pembentukan setiap putusan sintetis apriori adalah perlunya putusan memiliki forma (form) dan materi (matter). (1) Forma diberikan oleh intelek, independen dari semua pengalaman, a priori, dan menandakan fungsi, cara dan hukum mengetahui dan bertindak yang eksistensinya mendahului seluruh pengalaman. (2) Materi tidak lain adalah sensasi subjektif yang kita terima dari dunia luar.

Melalui kedua unsur inilah manfaat dari rasionalisme dan empirisme dipersatukan dalam putusan yang sama: forma mewakili unsur universal dan niscaya, sedangkan materi mewakili data empiris. Putusan yang dihasilkan (sintetis apriori) adalah universal dan niscaya karena forma, dan absah bagi dunia empiris karena materi. Perlu dicatat bahwa kedua elemen ini harus ada dalam setiap pembentukan putusan sintetis apriori: forma tanpa materi adalah hampa; materi tanpa bentuk adalah buta. Jelas, pengetahuan diperoleh melalui putusan apriorinya Kant adalah jenis pengetahuan yang memiliki hanya nilai fenomenal. Jenis pengetahuan ini tidak memberikan pemahaman yang valid mengenai obyek “in se” atau sebagaimana merekaa eksis di alam (noumena), tetapi hanya sejauh mereka dipikirkan oleh subjek.  Ego berpikir Kant tidak mengasimilasi obyek, sebagaimana dipertahankan filsafat tradisional, tetapi konstruksinya. Kenyataannya, baik materi dan bentuk (sensasi) adalah elemen subjektif dan tidak memperlihatkan kenyataan; bahkan tetap terpisah dan berbeda dari subjek.

Kant menyajikan studinya mengenai putusan sintetis apriori dalam Critique of Pure Reason. Karya ini dibagi menjadi tiga bagian:

  Dalam Transcendental Aesthetic (Estetika Transendental), Kant menyelidiki unsur-unsur pengetahuan yang masuk akal mengacu pada suatu bentuk apriori ruang dan waktu. Objek penelitian ini adalah untuk membuktikan matematika sebagai ilmu yang sempurna. Awal pengetahuan adalah sensibilitas. Artinya pengetahuan berawal dari proses sensasi atau pengindraan. Supaya pengetahuan bisa dihasilkan, sensasi harus dilokasikan dalam ruang (in space), jika pengetahuan tersebut dihasilkan melalui indera eksternal. Sementara itu, sensasi dilokasikan dalam waktu (in time) jika pengetahuan dihasilkan satu melampaui lainnya, tidak peduli dari mana asal pengetahuan tersebut, bahkan ketika pengetahuan tersebut hanyalah keadaan kesadaran yang sederhana, misalnya kenikmatan dan rasa sakit. Bagi Kant, ruang dan waktu bukanlah realitas yang eksis dalam dirinya sendiri, sebagaimana dipercaya Newton. Ruang dan waktu juga bukan realitas yang dihasilkan oleh pengalaman, sebagaimana dipertahankan Aristoteles. Ruang dan waktu lebih merupakan bentuk-bentuk a priori, Pengetahuan pada tingkat pengindraan (intuisi murni) membawa dalam dirinya semacam kegentingan (exigencies), bahwa setiap pengindraan (sensation) harus dilokasikan dalam ruang, entah itu di atas, di bawah, di sebelah kiri atau kanan, dan dalam waktu, yakni sebelumnya, sesudahnya, atau yang bersamaan dengan pengindraan lainnya. Demikianlah, ruang dan waktu adalah kondisi-kondisi, bukanlah eksistensi dari sesuatu tetapi posibilitas dari keberadaannya yang termanifestasi di dalam diri kita. Singkatnya, ruang dan waktu adalah bentuk-bentuk subjektif. Aritmatika dan geometri kemudian didasarkan pada ruang dan waktu. Akibatnya, mereka didasarkan pada bentuk-bentuk subyektif, serta aspek keseluruhan (universalitas) dan kondisi yang harus ada (necessity) yang kita temukan di dalam mereka muncul atau dihasilkan dari bentuk-bentuk subyektif ini. Dengan kata lain, aritmatika dan geometri adalah ilmu mutlak, bukan karena mereka mewakili sebuah aspek universal dan keniscayaan dari dunia fisik tetapi karena mereka adalah konstruksi apriori jiwa manusia dan menerima darinya universalitas dan keniscayaan.

  Karya Transcendental Analytic  (Analitika Transendental) adalah sebuah penyelidikan ke dalam pengetahuan intelektual. Obyeknya adalah dunia fisik, dan ruang lingkupnya adalah membuktikan “fisika murni” (mekanik) sebagai ilmu yang sempurna. Intuisi murni tentang ruang dan waktu menyajikan kepada kita spektrum pengetahuan (dalam epistemologi Kant digunakan istilah manifold, dimaksud sebagai “the totality of discrete items of experience as presented to the mind; the constituents of a sensory experience”), tetapi sebenarnya merupakan pengetahuan yang tidak tertata. Jiwa manusia, yang cenderung ke arah penyatuan pengetahuan, tidak bisa berhenti pada intuisi yang membingungkan ini. Roh atau jiwa manusia selalu ingin bergerak maju ke pengetahuan pada tingkat yang lebih tinggi yang berpusat di kecerdasan (intellect) dan yang kegiatannya adalah mengatur data yang diinderai yang tersebar dalam ruang dan waktu.


  Objek penelitian dari Transcendental Dialectic (Dialektika Transendental) adalah realitas yang melampaui pengalaman kita; yaitu esensi Allah, manusia dan dunia. Kant mereduksikan objek-objek dari metafisika tradisional ini kepada “ide-ide,” yang tentangnya berputar-putar secara sia-sia, tanpa harapan untuk bisa tiba pada sebuah hasil yang pasti. Klasifikasi yang dilakukan intelek atas data-data yang ditangkap intuisi ke dalam kategori-kategori tidak pernah mencapai suatu penyatuan sempurna. Dalam dunia fenomenal selalu ada serangkaian fenomenal yang memperpanjang sendiri tanpa batas dalam ruang dan waktu. Dalam diri kita, bagaimanapun, ada kecenderungan untuk mencapai penyatuan fenomena secara tetap, dan sebagai akibatnya timbul dalam diri kita “ide-ide” tertentu yang berfungsi sebagai titik acuan dan pengatur bagi fenomena secara keseluruhan. “Ide-ide” dimaksud ada tiga, yakni, (1) ego personal, prinsip pemersatu atas semua fenomena internal; (2) dunia eksternal, prinsip pemersatu dari semua fenomena yang datang dari luar, dan (3) Allah, prinsip pemersatu dari semua fenomena, terlepas dari asal-usul mereka.





Bagi Kant, satu-satunya pengetahuan yang benar dan tepat adalah pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui kategori-kategori intelek, yang tugasnya adalah mengatur data-data pengindraan yang masuk sesuai suksesi mekanik mereka. Ideal realitas (noumenon), Allah, keabadian jiwa, dan dunia eksternal bukanlah objek dari intuisi yang masuk akal (sensible intuiton), dan karenanya bukan obyek dari pengetahuan yang adalah lazim bagi intelek.


Tanpa ragu, bagi Kant, keberadaan dari yang melampaui pengindraan, Allah dan keabadian jiwa sungguh-sungguh pasti; itu adalah determinasi konseptual (conceptual determination) mereka yang adalah mustahil. Untuk alasan ini, Kant dipaksa menunjukkan keberadaan mereka sebagai yang dipostulatkan oleh rasio praktis dan sebagai kemendesakan dari fakultas yang beroperasi di ranah finalitas dan estetika. Tetapi begitu pemahaman yang benar dan tepat dari keberadaan Allah dan jiwa ditolak, siapa yang dapat meyakinkan kita bahwa postulat-postulat dan  kemendesakan-kemendesakan yang dibicarakan Kant dengan begitu fasih bukanlah semata-mata ilusi si subjek? Bukankah akan tampak lebih logis untuk menyajikan subjek, jiwa manusia, sebagai pencipta dan pengatur mutlak, dan kemudian menurunkan seluruh realitas dari manusia melalui deduksi logis? Inilah kecenderungan yang perlahan-lahan menyertai seluruh Kritisisme Kantian, dan untuk alasan ini tanpa keraguan apapun Kant adalah Bapak Idealisme modern.

0 comments:

Post a Comment